Selasa, 14 Mei 2013

TUGAS KEWARGANEGARAAN


PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN
ALAN DARMASAPUTRA
20311532
2TB01

Tugas 1
NEGARA DAN UNSUR PEMBENTUKNYA
PENGERTIAN NEGARA
Negara adalah suatu wilayah di permukaan bumi, yang secara kekuasaannya diatur oleh pemerintahan yang ada di wilayah tersebut. Kekuasaan tersebut mencakup politik, militer, sosial, maupun budaya.
Secara istilah, negara memiliki banyak pengertian. Istilah negara berasal dari bahasa Sansekerta, nagari atau nagara, yang berarti kota. Dalam arti lain, negara adalah suatu perserikatan yang melaksanakan satu pemerintahan melalui hukum yang mengikat masyarakat dengan kekuasaan yang bersifat memaksa demi tercapainya ketertiban sosial.
Adapun pengertian negara dari beberapa ahli, antara lain:
·         R. Joko Soetono
Negara adalah organisasi manusia atau kumpulan manusia yang berada di bwah pemerintahan yang sama.
·         Hegel
Negara adalah organisasi kesusilaan yang muncul sebagai sintesis dari kemerdekaan individual dan universal.
·         Max Weber
Negara merupakan suatu masyarakat yang memiliki monopoli dalam penggunaan kekerasan fisik yang secara sah dalam suatu wilayah.
·         Aristoteles
Negara adalah persekutuan dari keluarga dan dea untuk mencapai kehidupan yang baik.
·         Jean Bodin
Negara adalah suatu persekutuan dari keluarga-keluarga dengan segala kepentingannya dipimpin oleh akal dari kekuasaan yang memiliki kedaulatan.
·         Kranenberg
Negara adalah organisasi kekuasaan yang diciptakan oleh bangsa.
TEORI TERBENTUKNYA NEGARA
1)      Teori Hukum Alam (Plato & Aristoteles)
Terbentuknya negara berawal dari kondisi alam yang mngakibatkan manusia belajar untuk mengenali dirinya sendiri, alam, maupun kehidupan sosial dan aturan yang ada. Sehingga seiring berkembangnya waktu, manusia pun semaking berkembang. Hingga akhirnya membentuk sebuah populasi yang semakin lama semakin berkembang sehingga terbentuknya negara.
2)      Teori Ketuhanan
Segala sesuatu adalah ciptaan Tuhan. Negara merupakan yang termasuk didalamnya.
3)      Teori Perjanjian (Thomas-Hobbes)
Manusia menghadapi kondisi alam hingga timbullah kekerasan. Bila manusia tidak mengubah cara-caranya, ia akan musnah. Manusia pun akhirnya bersatu dengan cara membentuk negara untuk mengatasi segala tantangan, dan menggunakan persatuan dalam gerak tunggal untuk kebutuhan bersama.
Bila dilihat dari prakteknya yang terjadi di masa modern ini, terbentuknya negara, bisa juga disebabkan oleh penaklukan, peleburan, pemisahan diri, maupun pendudukan atas negara/ wilayah yang belum memiliki pemerintahannya.
UNSUR-UNSUR TERBENTUKNYA NEGARA
Unsur-unsur negara terdiri atas dua unsur, konstitutif dan deklaratif.
1)      Unsur Konstitutif

a)      Rakyat
Rakyat adalah semua orang yang berada dan menetap di dalam wilayah negara tertentu. Rakyat terbagi menjadi dua, yaitu:
1) Penduduk dan bukan penduduk
2) Warga negara dan bukan warga negara.

b)      Wilayah
Wilayah negara adalah tempat yang menunjukkan batas-batas pelaksanaan kekuasaan negara. Juga merupakan tempat berlindung maupun menetap bagi rakya, dan juga sebagai tempat untuk negara melaksanakan pemerintahannya.

Wilayah terbagi atas tiga bagian, yaitu:

(1)   Wilayah darat, bentuk batasnya bisa berupa batas buatan manusia (tembok, tugu, dsb), batas secara alam, dan geofisika.
(2)   Wilayah laut
(3)   Wilayah udara

c)      Pemerintah yang berdaulat, yaitu merupakan gabungan semua badan kenegaraan yang berkuasa dan memrintah suatu wilayah negara.

2)      Unsur Deklaratif
Unsur deklaratif adalah merupakan unsur yang mendukung unsur-unsur pembentuk negara. Unsur deklaratif ini adalah berupa pengakuan dari negara lain secara nyata (de facto) dan secara hukum (de jure).
Referensi:




TUGAS 2
PENGERTIAN DEMOKRASI
Demokrasi adalah suatu bentuk pemerintahan dimana setiap warga negara memiliki hak yang sama untuk berpartisipasi dalam pengambilan keputusan yang dapat mengubah hidup mereka. Demokrasi pada prakteknya mengizinkan setiap warga negara untuk turut serta dalam kebebasan berpolitik secara bebas dan setara, yang mencakup keadaan ekonomi, sosial, dan budaya.
Kata demokrasi seperti yang kita ketahui berasal dari bahasa Yunani, yaitu demokratia. Demokratia yang bermakna kekuasaan rakyat, terdiri atas dua kata. Demos, yang berarti “rakyat”, dan “Kratia” atau “Kratos”, yang berarti “kekuasaan” atau “kekuatan”. Secara teori, kedua kata tersebut saling bertentangan. Hal ini dikarenakan, dari kata ‘demos’, kekuasaan hanya untuk populasi tertentu (salah satu contohnya, yaitu sistem Athena Klasik pada abad 5 SM), bukan untuk rakyat secara keseluruhan. Kekuasaan hanya dikontrol oleh mereka yang berdasarkan tradisi atau kesepakatan formal mengatur segala akses ke sumber-sumber kekuasaan.

PENGERTIAN DEMOKRASI MENURUT PARA AHLI
·         Abraham Lincoln
Demokrasi adalah pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat. (Pengertian ini yang kemudian umum digunakan dalam menjelaskan pengertian demokrasi).

·         Charles Costello
Adalah sistem sosial dan politik pemerintahan dengan segala kekuasaan pemerintah dibatasi oleh  hukum untuk melindungi setiap hak perorangan warga negara.

·         John L. Esposito
Pada dasarnya kekuasaan dari rakyat dan untuk rakyat. Maka dari itu, semuanya memiliki hak untuk berpartisipasi, baik secara aktif maupun mengontrol kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintah. Selain itu, lembaga resmi pemerintah harus terdapat pemisahan yang jelas antara unsur eksekutif, legislatif, dan yudikatif.

·         Hans Kelsen
Demokrasi adalah pemerintahan dari rakyat dan untuk rakyat. Wakil-wakil rakyat terpilih adalah  pelaksana kekuasaan Negara. Dimana rakyat telah meyakini bahwa segala kehendak dan kepentingannya akan diperhatikan dalam melaksanakan kekuasaan Negara.

BENTUK-BENTUK DEMOKRASI
Umumnya, terdapat dua bentuk demokrasi, yaitu demokrasi langsung dan demokrasi perwakilan.

·         Demokrasi Langsung
Merupakan suatu bentuk demokrasi dimana dalam penentuan keputusan, setiap rakyat berhak memberikan suara dan pendapat. Dalam sistem demokrasi ini, setiap rakyat mewakili dirinya sendiri dalam memilih suatu kebijakan sehingga secara langsung mereka memiliki pengaruh terhadap kondisi politik yang sedang terjadi. Sistem ini di masa modern menjadi tidak efektif. Karena umumnya populasi di suatu negara cenderung lebih besar, ditambah lagi dengan keadaan tersebut sangat sulit untuk mengumpulkan massa dalam satu forum. Selain itu, sistem ini menuntut partisipasi yang tinggi dari rakyat sedangkan rakyat modern sebagian besar belum tentu turut berpartisipasi.

·         Demokrasi Perwakilan

Sistem ini sangat berbeda dengan demokrasi langsung. Dalam demokrasi ini, perwakilan dipilih berdasarkan pemilihan umum untuk menyampaikan pendapat dan mengambil keputusan dari mereka. Meskipun efisien, namun seringkali sistem ini disalahgunakan dan beberapa kali ditemukan adanya indikasi kecurangan dalam pemilihan umum.
PRINSIP-PRINSIP DEMOKRASI
Menurut Almamudi, prinsip-prinsip demokrasi adalah:
1)      Kedaulatan rakyat;
2)      Pemerintahan yang berdasarkan oleh persetujuan dari yang diperintah;
3)      Kekuasaan mayoritas;
4)      Hak-hak minoritas;
5)      Adanya jaminan HAM (Hak Asasi Manusia);
6)      Pemilihan yang adil, bebas, dan jujur;
7)      Persamaan di mata hukum;
8)      Proses hukum yang wajar;
9)      Pemerintah dibatasi secara konstitusional;
10)  Pluralisme dalam hal sosial, politik, dan ekonomi;
11)  Nilai-nilai toleransi, mufakat, pragmastisme, dan kerjasama
ASAS POKOK DEMOKRASI
Gagasan dasar pemerintahan demokrasi adalah pengakuan hakikat manusia, dimana manusia memiliki kemampuan yang sama dalam hubungan sosial. Berdasarkan hal tersebut, ada dua asas pokok demokrasi, yaitu:
1)      Pengakuan keterlibatan rakyat dalam pemerintahan (contohnya pemilihan umum)
2)      Pengakuan hakikat dan martabat manusia (contohnya, tindakan pemerintah untuk perlindungan HAM)
Adapun ciri-ciri pemerintahan demokrasi, yang seiring perkembangannya digunakan oleh sebagian besar negara di dunia, antara lain:
1)        Adanya keterlibatan rakyat dalam partisipasi politik, secara langsung maupun tidak langsung.
2)        Adanya pengakuan, penghargaan, dan perlindungan HAM warganegara.
3)        Persamaan hak bagi seluruh warga negara dalam semua bisang.
4)        Alat penegakan hukum berupa lembaga peradilan dan kekuasaan kehakiman yang independen.
5)        Kebebasan dan kemerdekaan bagi setiap warga negara.
6)        Media massa yang bebas untuk menyampaikan informasi dan mengontrol sikap dan kebijakan pemerintah.
7)        Adanya pemilu (pemilihan umum) untuk memilih wakil rakyat.
8)        Pemilihan umum bersifat jujur, bebas, dan adil untuk menentukan pemimpin negara dan wakil rakyat.
9)        Pengakuan terhadap ras, agama, golongan,suku, dan sebagainya.

Referensi:




TUGAS 3
SISTEM PRESIDENSIAL
Sistem presidensial, atau bisa juga disebut dengan sistem kongresional, adalah sebuah sistem pemerintahan yang digunakan oleh negara republik, dimana badan eksekutif dan legislatif memiliki kedudukan yang independen. Dalam sistem pemerintahan ini, kekuasaan eksekutif (pelaksana undang-undang) dipilih melalui pemilihan umum dan terpisah dengan kekuasaan legislatif (pembuat undang-undang).
Sistem pemerintahan presidensial terdiri atas 3 unsur, menurut Rod Hague, antara lain:
·         Presiden dipilih oleh rakyat untuk memimpin jalannya pemerintahan dan mengangkan pejabat-pejabat pemerintahan yang terkait.
·         Presiden dengan dewan perwakilan memiliki masa jabatan yang tetap, dan tidak bisa saling menjatuhkan satu sama lain.
·         Status yang tumpang tindih tidak ada antara badan eksekutif dan legislatif.
Dalam sistem ini, posisi presiden relatif kuat dan tidak dapat dijatuhkan. Hal ini disebabkan oleh rendahnya subjektif seperti rendahnya dukungan politik. Meskipun posisi presiden tidak dapat dijatuhkan, tetap masih ada mekanisme yang dapat mengontrol presiden. Apabila presiden melakukan pelanggaran konstitusi, pengkhianatan terhadap negara, terlibat masalah kriminal, dan lain sebagainya, posisi presiden bisa saja dijatuhkan (contohnya bisa diambil pada  masa kejatuhan Presiden Soeharto tahun 1998). Biasanya seorang wakil presiden yang akan menggantikan posisinya apabila seorang presiden telah diberhentikan akibat dari pelanggaran-pelanggaran tertentu yang dilakukannya.
CIRI-CIRI SISTEM PRESIDENSIAL
1)      Presiden adalah kepala pemerintahan sekaligus kepala pemerintahan.
2)      Presiden memiliki hak istimewa (prerogratif) untuk mengangkat maupun memberhentikan menteri-menteri yang memimpin departemen maupun non departemen.
3)      Kekuasaan eksekutif presiden diangkat berdasarkan demokrasi rakyat, dan dipilih langsung oleh mereka (atau melalui badan perwakilan rakyat).
4)      Menter-menteri hanya bertanggung jawab pada kekuasaan eksekutif.
5)      Kabinet (dewan menteri) dibentuk oleh presiden, juga memiliki tanggungjawab kepada presiden, namun tidak bertanggungjawab kepada parlemen maupun legislatif.
6)      Presiden memiliki kekuasaan tidak terbatas, namun tidak dapat membubarkan parlemen (presiden juga tidak bertanggungjawab kepada parlemen).
KELEBIHAN DAN KEKURANGAN SISTEM PRESIDENSIAL
Sistem presidensial dalam penyelenggaraan sistem pemerintahan memiliki berbagai kelebihan, antara lain:
a)      Kedudukan badan eksekutif jauh lebih stabil. Hal ini dikarenakan badan eksekutif tidak bergantung pada parlemen.
b)      Masa jabatan badan eksekutif menjadi lebih jelas dengan adanya jangka waktu tertentu. Misalnya, pada masa jabatan presiden Indonesia adalah 4 tahun.
c)      Penyusun program kerja kabinet mudah disesuaikan dengan jangka waktu masa jabatannya.
d)      Legislatif bukanlah tempat untuk kaderisasi untuk jabatan-jabatan eksekutif. Legislatif dapat diisi oleh orang-orang luar (termasuk oleh parlemen sendiri).
KEKURANGAN SISTEM PRESIDENSIAL
Meskipun sistem pemerintahan presidensial memiliki berbagai keuntungan, namun tidak tertutup kemungkinan bahwa sistem ini juga memiliki kekurangan, antara lain:
a)      Karena kekuasaan eksekutif berada di luar pengawasan langsung badan legislatif, maka sangat besar kemungkinan terbentuknya kekuasaan yang bersifat mutlak.
b)      Sistem pertanggungjawaban yang dimiliki kurang jelas.
c)      Pembuatan keputusan atau kebijakan publik umumnya merupakan hasil tawar-menawar antar badan eksekutif dan legislatif sehingga besar kemungkinan dihasilkannya keputusan yang tidak tegas.
d)      Untuk membuat keputusan dibutuhkan waktu yang lama.

Referensi:






TUGAS 4
SISTEM PEMERINTAHAN PARLEMEN
Sistem parlementer merupakan sebuah sistem pemerintahan dimana parlemen berperan penting dalam pemerintahan. Dalam sistem ini, parlemen mempunyai hak dan wewenang untuk mengangkat perdana menteri. Parlemen juga memiliki hak untuk menjatuhkan pemerintahan, dengan cara mengeluarkan semacam mosi tak percaya.
Sistem parlemen berbeda dengan sistem presidensil. Bila presiden dalam sistem presidensil adalah sebagai pemegang kekuasaan dan berwenang terhadap jalannya pemerintahan, maka dalam sistem parlemen, presiden hanyalah merupakan simbol kepala negara saja.
Sistem parlementer dibedakan oleh cabang eksekutif pemerintah. Hal ini tergantung dari dukungan cabang legislatif, baik itu langsung maupun tidak secara langsung, atau parlemen, yang sering diutarakan melalui veto keyakinan.
Dalam sistem parlementer, tidak ada pemisahan kekuasaan yang jelas antara badan eksekutif dan legislatif, sehingga sangat jelas perbedaannya dengan sistem pemerintahan presidensial. Secara umum, dalam  sistem ini, kepala negara dan kepala pemerintahan dipisahkan, atau memiliki tugas yang berbeda. Perdana menteri memegang peran sebagai kepala pemerintahan, sedangkan kepala negara dipegang oleh presiden.
Bila dibandingkan dengan sistem presidensil, sistem parlemen dinilai lebih baik daripada sistem presidensil. Sistem parlemen memiliki fleksibilitas, terutama dalam menanggapi publik. Meskipun demikian, kekurangan dari sistem ini adalah sistem ini lebih mengarah ke pemerintahan yang kurang stabil.
CIRI-CIRI SISTEM PEMERINTAHAN PARLEMENTER
1)      Kekuasaan besar parlemen meliputi badan perwakilan dan lembaga legislatif.
2)      Keanggotan dalam parlemen dipilih langsung oleh rakyat melalui pemilihan umum.
3)      Kabinetnya dipimpin oleh perdana menteri dengan anggotanya terdiri atas menteri-menteri. Perdana menteri merupakan pemegang kekuasaan eksekutif.
4)      Sebagian besar anggota kabinet berasal dari parlemen.
5)      Anggota parlemen berasal dari partai politik yang menadapatkan kursi parlemen melalui pemilu. Bila semakin banyak anggota partai yang berada di dalam parlemen, maka semakin banyak pula wakil dari partai politik di parlemen.
6)      Kabinet bertanggung jawab pada parlemen. Kabinet bisa bertahan lama bila sudah dipercaya oleh parlemen.
7)      Kepala negara hanyalah simbol negara, bukan kepala pemerintahan.
8)      Meskipun bukan sebagai kepala pemerintahan, kepala negara memiliki hak untuk menjatuhkan parlemen dan mengadakan pemilu lagi.
KELEBIHAN DAN KEKURANGAN SISTEM PARLEMEN
Sistem parlemen memiliki kelebihan, antara lain:
·         Pembuat kebijakan dapat ditangani secara cepat. Hal ini disebabkan oleh penyesuaian pendapat antara eksekutif dan legislatif mudah terjadi. Ditambah lagi, kekuasaan legislatif dan eksekutif berada dalam satu koalisi partai.
·         Garis tanggung jawab dalam pembuatan dan pelaksanaan kebijakan publik jelas.
·         Karena pengawasan yang kuat dari parlemen, kabinet menjadi sangat berhati-hati dalam menjalankan pemerintahan.
Kekurangan dari sistem parlemen, antara lain:
·           Sewaktu-waktu kabinet bisa saja dijatuhkan oleh parlemen, karena posisi kabinet sangat bergantung banyak dari dukungan parlemen.
·           Masa berjalannya kabinet tidak dapat ditentukan, karena sewaktu-waktu bisa saja kabinet dihapuskan oleh parlemen.
·           Apabila para anggota kabinet mayoritas adalah anggota parlemen, maka sewaktu-waktu bisa saja parlemen dikendalikan oleh kabinet.
·           Parlemen menjadi tempat kaderisasi bagi jabatan-jabatan eksekutif. Pengalaman meereka yang sebelumnya menjadi anggota parlemen dimanfaatkan dan dijadikan bekal penting untuk mendapatkan posisi menteri maupun jabatan-jabatan eksekutif lainnya.
Referensi:




Tugas 5
DEMOKRASI PANCASILA
Demokrasi Pancasila adalah paham demokrasi yang bersumber pada kepribadian dan falsafah hidup Pancasila, yang merupakan ideologi dan dasar negara Indonesia. Sistem demokrasi mengutamakan pada musyawarah tanpa oposisi. Bila ditelusuri lebih lanjut, sistem demokrasi ini berprinsip pada sila ke empat Pancasila.
Dari segi prinsip, demokrasi Pancasila sedikit berbeda dengan prinsip demokrasi secara universal. Ciri-ciri demokrasi Pancasila, yaitu:
·         Pemerintahan dijalankan berdasarkan konstitusi
·         Pemilu diadakan secara berkesinambungan
·         Adanya penghargaan terhadap Hak Asasi Manusia dan perlindungan terhadap minoritas.
·         Demokrasi Pancasila merupakan hsil dari kompetisi berbagai ide dan cara untuk menyelesaikan masalah.
·         Ide-ide yang diterima bukan berdasarkan hasil suara terbanyak, melainkan berdasarkan yang paling baik.
Demokrasi Pancasila merupakan demokrasi konstitusional. Dengan sistem mekanismenya didasarkan pada kedaulatan rakyat dalam menyelenggarakan negara dan pemerintahan dan juga secara konstitusi, yaitu Undang-undang dasar 1945. Hal ini menyebabkan secara pelaksanaan demokrasi ini harus sesuai dengan UUD 1945.
PRINSIP DEMOKRASI PANCASILA
·         Perlindungan terhadap HAM
·         Musyawarah merupakan dasar dalam pengambilan keputusan
·         Peradilan yang merdeka, maksudnya terlepas dari pengaruh kekuasaan pemerintah dan kekuasaan lain.
·         Partai politik dan organisasi sosial politik sebagai penyalur aspirasi rakyat.
·         Adanya pelaksanaan Pemilu
·         Kedaulatan ada di tangan rakyat dan dilaksanakan menurut UUD (pasal 1 ayat 2 UUD 1945)
·         Adanya keseimbangan antara hak dan kewajiban
·         Pelaksanaan kebebasan yang bertanggung jawab secara moral
·         Menjunjung tinggi tujuan dan cita-cita nasional
·         Pemerintahan berdasarkan hukum.
TUJUH SENDI POKOK
a)      Indonesia adalah negara yang berdasarkan pada hukum.
b)      Indonesia menganut sistem konstitusional
c)      MPR adalah pemegang kekuasaan negara yang tertinggi
Sebagai pemegang kekuasaan tertinggi, MPR mempunyai tugas pokok, yaitu:

- Menetapkan UUD;
- Menetapkan GBHN; dan
- Memilih dan mengangkat presiden dan wakilnya.
d)      Presiden adalah penyelenggaraan pemerintah yang tertinggi di bawah MPR
e)      Pengawasan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR)
DPR mengawasi pengawasan mandat yang dipegang oleh presiden. Hak DPR di bidang legislatif ialah hak inisiatif, amandemen, dan budget. DPR juga memiliki hak pengawasan, antara lain:

- Hak bertanya kepada pemerintah
- Hak interpelasi, atau meminta penjelasan kepada pemerintah
- Hak mosi, atau percaya/tidak percaya kepada pemerintah
- Hak angket, atau menyelidiki suatu hal
- Hak Petisi, mengajukan usul/saran kepada pemerintah

f)       Menteri Negara adalah pembantu presiden, namun tidak bertanggung jawab terhadap DPR
g)      Kekuasaan Kepala Negara tidak terbatas.
Referensi:


Jumat, 13 April 2012

Catatan Sang Petarung (Bagian 3)

Aku teringat akan adik perempuanku, dan di saat itu pula aku merasakan ada sedikit kekuatan yang membuatku untuk ingin melanjutkan pertarungan ini. Aku teringat akan tujuan awalku bertarung. Ya, untuk adikku. Untuk membiayai pengobatan adikku. Gemuruh maupun teriakan penonton sekarang ini rasanya tidak ada apa-apanya bagiku. Semuanya bisa kuacuhkan. Kumantapkan hatiku untuk terus melanjutkan pertarungan ini.
Kutatap tajam mata Da Silva. Kupasang kembali kuda-kuda kickboxing sanshou milikku. Mengamati gerakannya, dimana saat ini dia juga masih dengan kuda-kuda capoeira ginga-nya. Aku hanya bergerak mengitarinya sambil mengamati apa yang akan dilakukannya.

  Tendangan melingkarnya pun datang sebagai serangan pembuka. Aku segera mengelak. Sikutnya kemudian datang menyusul. Kutangkis dan aku pun berputar membelakanginya, tepat menyentuh bagian depan badannya. Sambil memegang lengannya, sikutku langsung mengincar bagian rusuk. Serangan berikutnya, segera kupuntir lengannya, dan tanpa pikir panjang aku pun langsung membantingnya melewati pinggulku dengan teknik bantingan jujutsu, o-goshi. Da Silva memang berhasil kubanting. Namun, ia selalu saja bisa melancarkan serangan balasan secepatnya. Kakinya yang lentur pun menjungkal menendang wajahku.

  Kami berdua saling beradu serangan dan saling menangkis. Beberapa pukulan maupun tendangan dari kami saling menghantam satu sama lain, dan ada pula yang berhasil dielakkan. Serbuan tendangan capoeira terus memaksaku untuk selalu mengelak, sedangkan serbuan pukulan dan tendanganku dengan kombinasi yang tak berpola berusaha mencari celah untuk bisa menyerang tubuhnya. Tidak ada di antara kami yang mau mengalah. Yang ada di pikiran kami sekarang ini hanyalah satu, bertarung sampai titik darah penghabisan.

  Kombinasi pukulan tinjuku berhasil menghantam setiap bagian wajahnya, namun tendangan melingkar ke luar Da Silva kali ini balik menghantam wajahku sebelum disusul dengan tendangan back flip yang berhasil membuatku terdorong mundur.

  Serangan Da Silva kali ini menjadi lebih tak berpola. Kombinasi pukulan, sikut, dan tendangan melingkar capoeira-nya memaksaku untuk terus menangkis dalam jarak sedekat ini. Aku berusaha untuk terus menekan dan menghentikan setiap serangannya. Celah kesempatan pun datang. Double hook milikku kali ini berhasil masuk mengincar pelipis dan rahangnya. Aku membalikkan keadaan. Setiap tinjuku masuk dan bersarang di tubuhnya. Aku berhasil menekannya. Tanpa ampun, kudorong ia, dan sekali lagi. Aku berputar. Tendangan angin puyuh yang lebih kuat dari sebelumnya kali ini mendarat keras di bagian samping wajahnya. Membuat mouth piece-nya terlepas dari mulutnya sebelum akhirnya terpelanting keras di atas aspal.

  Da Silva menjadi lebih bengis. Darah mengalir dari mulut dan hidungnya. Bagaikan seekor jaguar yang tidak ingin membiarkan mangsanya lolos, Da Silva langsung melancarkan serangan membabi buta ke arahku. Amarah yang berkobar dalam dirinya membuatnya menyerangku tanpa berpikir lagi. Ia telah dikuasai oleh amarah dalam dirinya. Aku pun tak tinggal diam. Aku harus segera menyelesaikan pertarungan ini.

  Aku menerjang ke arahnya. Begitu pukulannya datang, kutangkap pukulan itu. Lututku pun langsung bersarang di perutnya. Dalam posisi dimana aku masih menahan lengannya dengan erat, aku segera melakukan teknik flying arm lock. Kaki kiriku langsung melompat melewati lengannya, dan mengait lehernya. Segera kujatuhkan diriku dalam posisi mengunci lengannya hingga ia ikut terbawa oleh berat badanku dan terjatuh sangat keras di atas aspal yang menyebabkan debu beterbangan. Aku masih menguncinya dengan arm lock. Kaki kiriku masih menjepit lehernya, dan kaki kananku menginjak dadanya. Kucengkeram lengan itu. Kutarik lengannya hingga ia berteriak kesakitan akibat sendi lengannya yang kutarik. Da Silva berusaha melepaskan diri, tapi aku tak memberinya kesempatan. Aku yang menguasai pertarungan ini sekarang.

  Da Silva berhasil melepaskan diri, tapi aku tak memberinya kesempatan untuk lepas begitu saja. Ia langsung mengganjalku dan memukuliku yang terbaring. Dalam keadaan ini aku menangkis pukulannya. Pukulannya menjadi semakin keras, tapi justru mulai menghabiskan tenaganya.  Segera kuraih lengan kanannya yang memukulku, dan kedua kakiku langsung mengunci bagian atas tubuhnya dalam posisi segitiga. Triangle lock, kuncian segitiga. Kedua kakiku menjepit bagian atas tubuhnya yang berhubungan dengan dada, kepala, dan lengan kanannya yang kuraih. Dengan begini ia tidak bisa berusaha memukulku. kalaupun ia memukul, justru itu akan semakin menghabiskan nafas dan tenaganya. Tangan kirinya yang bebas memegang pahaku yang menguncinya, berusaha untuk melepaskan dari kuncianku sekali lagi. Sedangkan lengan kanannya yang berada si dalam kuncian ini sudah tidak bisa melakukan apa-apa lagi. Triangle lock bukanlah kuncian yang mudah dilepaskan. Hanya petarung yang benar-benar terlatih saja yang bisa melepaskan diri dari kuncian ini. Kedua kaki ini terus menjepitnya. Memberi tekanan yang kuat ke dadanya. Kepalanya terus menatapku. Kuraih kepala Da Silva, dan kutekan bagian belakang kepalanya. Tepat di bagian arteri carotid.

  Aku terus menjepitnya. Memaksanya untuk menyerah. Sekarang Da Silva sudah tidak bisa melakukan apa-apa lagi. Efek dari teknik triangle lock bagi lawan sangatlah berbahaya. Teknik kuncian ini bisa mengakibatkan aliran darah arteri carotid, apalagi yang sedang kutekan di belakang kepalanya saat ini, menjadi terhambat. Efeknya parah. Bisa mengakibatkan pingsan, atau bahkan yang paling parah adalah meninggal. Teknik seperti ini banyak dipakai oleh praktisi Brazililan Jujutsu, Judo, maupun Jujustu.

  Da Silva menatapku nanar. Bisa kulihat dengan sangat jelas wajahnya yang berdarah akibat serangan-seranganku tadi. Da Silva mulai kehabisan nafas. Ia mencoba untuk berdiri, dan bisa saja ia membantingku ke aspal tanpa ampun agar ia bisa melepaskan diri. Tapi, itu sudah sangat sulit baginya. Sebentar lagi ia mungkin pingsan. Terus kujepit dia agar ia mau menyerah.

  Tap Out, atau tepukkan tangan berkali-kali darinya ke pahaku menegaskan bahwa ia menyerah.

  Aku menang...

  Kulepaskan kuncian segitiga ini, dan aku pun segera berdiri. Orang-orang tidak percaya melihatku telah mengalahkan da Silva. Yang ada di wajah sebagian besar dari mereka hanyalah rasa kecewa, terutama Johan. Johan sangat kecewa melihat Da Silva berhasil kukalahkan. Sebagian kecil yang mendukungku bersorak melihatku menang, tak  terkecuali Ary.
  Da Silva duduk tertunduk lesu di atas aspal, sambil memangku tangannya di atas kedua lututnya. Ia tak percaya akan hal ini. Ia telah kalah.

  Kuhampiri dia, dan kusodorkan tangan kananku. Kulepas mouth piece dari dalam mulutku. “Good fight.”, ucapku.

  Da Silva menatapku. Lalu ia menunduk sejenak, menghela nafas. Disambutnya tanganku dengan jabat tangan darinya. Aku pun membantunya berdiri. Kami berdua saling menatap satu sama lain dengan mantap. “Is your name Ryo?”, tanyanya dengan sambil masih menggenggam jabat tanganku. “Yes, it’s me.”, jawabku tenang. “You’re the best fighter whom I meet the first time. You are the first who can defeat me. Nobody else.”, ujarnya dengan mantap. “I appreciate this fight. This is a good fight, and I hope... someday I can fight you again.”, lanjutnya lagi dengan penuh rasa terima kasih karena pertarungan yang bagus ini baginya. Ia lalu menepuk bahuku, dan tersenyum mantap padaku, sebelum akhirnya ia berlalu.



  Sudah hampir tengah malam, dan jalanan di kota Jakarta pun sudah mulai sepi. Tidak begitu banyak kendaraan yang lewat. Angkot dan bus masih tetap ada melaju sesuai trayeknya dengan jumlah penumpang yang tentunya tidak banyak. Sesepi apapun inu kota ini, tapi gemerlap lampu-lampu kotanya masih menerangi dan menemani kota metropolitan ini.
  Jip hitam ini berjalan mulus di atas jalan. “ Punggung lu masih sakit, Yo?”, sambil menyetir jip hitamnya, Ary menanyakan kondisiku. Aku menghela nafas panjang. “Masih.”
“Bukan cuma punggung gua doang yang sakit, ini mah semuanya. Sekujur tubuh mah ini, kecuali muka gua. Paling bengkak dikit nih yang di bagian deket pipi.”

  Ary terkekeh mendengarnya. “Gua lagi kesakitan gini, elu malah ketawa. Pengen rontok semua ni badan.”, aku hanya bisa mengeluh mendengarnya tertawa. “Hahaha. Sori, bro. Masa’ gua ketawa doang kagak boleh? Becanda doang, Yo.”, pandangan Ary masih terus memperhatikan jalanan yang ada di depannya. “Setidaknya malem ini gua dapet pengalaman, Ry...”, kataku pelan.
“Gua dapet lawan yang bener-bener tangguh banget buat diri gua sendiri. Lebih daripada lawan-lawan gua yang sebelumnya.”, lanjutku lagi. Kulihat Ary hanya tersenyum mendengar apa yang barusan kukatakan.

  Aku pun termenung sendirian, menatap sekeliling di luar jendela mobil. Lama-kelamaan aku terbayang akan adik perempuanku. Dialah yang menjadi alasan utama bagiku untuk bertarung dalam hiburan orang kaya seperti ini, pertarungan bawah tanah. Semua yang kulakukan hanyalah untuknya. Hanya untuk membiayai operasi penyakit yang dideritanya saat ini.

“Ryo..”
“Hoi, Ryo!”, panggilan Ary membuyarkan lamunanku. “Ngelamun aja lu, ah. Mikirin apa sih?”
“Gua cuma kepikiran adek gua. Idzni.”, jawabku pelan. Ary hanya diam. “Adek lu pasti sembuh, Yo. Lu selama ini udah berusaha keras bertarung hanya untuk nyari biaya buat operasi adek lu...”
“Sejujurnya, lama-kelamaan gua mulai respek dan menghargai lu. Niat lu baek dan tulus banget. Lu rela berkorban selama ini hanya untuk nolongin adek perempuan yang lu sayangi...”

 Aku hanya diam mendengar apa yang dikatakannya. “Gua pasti akan terus bantu lu, Yo, bantuin lu supaya lu bisa membiayai operasi adek lu.”, lanjutnya lagi. Ary melihat ke arahku. Satu kepalan tangan kirinya disodorkan ke arahku. Aku melihat kepalannya, dan mengangguk. “Makasih, Ry.”, kutepuk kepalan tangannya dengan kepalan tanganku. Kami berdua tersenyum satu sama lain.

 Jip hitam ini terus berjalan. Mengantarku pulang ke rumah, setelah aku berhasil melewati pertarungan yang sangat melelahkan malam ini.


(Tamat)

Catatan Sang Petarung (Bagian 2)

  Akhirnya kami tiba di sebuah gudang kontainer di daerah Bekasi, yang letaknya berada di pinggir Jakarta. Dari jauh pun sudah bisa terlihat beberapa mobil, motor, dan sekerumunan orang yang berkumpul di tengah-tengah lapangan di gudang kontainer ini. Rata-rata yang berkumpul di situ adalah para orang kaya, yang betul-betul berjudi dan mempertaruhkan uangnya untuk melihat pertarungan bawah tanah ini. Mereka semua menunggu kedatangan kami. Tak sabar menunggu diadakannya hiburan yang brutal dan sangat berbahaya.

  Ary dan aku segera turun dari mobil. Ary menyuruhku untuk menunggu sebentar, dia ingin bernegosiasi mengenai harga taruhan pertarungan ini. Dia berjalan menghampiri para orang kaya tersebut yang masing-masing ditemani kolega, pengawal pribadi, maupun anak-anak buahnya. Sebagian besar orang memperhatikanku dengan pandangan sinis. Berkeyakinan bahwa aku pasti kalah dalam pertarungan ini. Aku pasti akan segera habis dibantai si petarung Brazil itu. Ary masih sementara bernegosiasi dengan Andrie, si ‘calo’ pertandingan ini, Johan, si konglomerat kaya yang bersetelkan jas kulit ular dan bertopi koboi Amerika, dan seorang lagi besetelan jas hitam yang sama sekali tidak kukenali. Sesekali mereka menatap ke arahku dan ke seseorang yang sedang berada di dalam mobil sedan Toyota Lancer hitam. Mobil itu dijaga dari luar oleh dua orang berjas hitam.

  Negosiasi sepertinya tidak berlangsung lama, hanya berlangsung selama beberapa menit. Ary berjabat tangan dengan Johan dan seorang bersetelan jas hitam sebagai tanda sepakat akan harga negosiasi taruhan pertarungan ini. Bisa kulihat tawa percaya diri dari Johan. Johan merasa yakin bahwa petarung andalannya kali ini pasti akan mengalahkanku. Ary hanya terlihat tenang dan segera menghampiriku, lalu menceritakan hasil negosiasi tersebut.
“Gua udah negosiasi ama mereka...”,
“Lu lihat orang yang itu? Yang nego ma gua barusan, yang bareng Johan. Lu lihat?”, tunjuknya ke arah pria bersetelan jas hitam tersebut yang bersama Johan. Aku mengangguk. “Orang itu namanya Hardi. Dia ngejagoin elu. Dia berani bayar 8 juta kalo lu bisa ngalahin petarung Brazil-nya si Johan, dan gua udah deal ama dia mengenai harga negosiasi ini.”, lanjutnya lagi sambil menegaskan hasil negosiasi tersebut. Aku melihat ke arah pria itu. Dia balas melihatku dan tersenyum yakin kepadaku.
“Oke. Berapapun harganya, gua bakal tarung. Gak masalah buat gua.”, aku hanya berkata tenang. Menyetujui hasil negosiasi itu. “Hmm, oke lah kalo gitu. Sekarang, persiapin diri lu. Inget saran gua yang tadi di mobil. Oke?”, Ary mengingatkanku kembali akan sarannya di mobil tadi sebelum menepuk bahuku. Aku mengangguk mantap, mengiyakan bahwa aku mengingatnya.

  Aku berjalan ke tengah-tengah lingkaran kerumunan orang-orang ini sambil mengenakan MMA gloves milikku sendiri. Kedatanganku disambut dengan ricuh oleh sebagian besar mereka yang menganggap bahwa aku pasti akan kalah.hanya sebagian kecil dari kerumunan ini yang mempertaruhkan uangnya untuk kemenanganku. Beberapa dari mereka sudah bersiap-siap memasang taruhan. Aku hanya berdiri tenang, fokus untuk pertarungan ini. Sedari tadi sudah kuacuhkan cemooh maupun kericuhan mereka. Kumasukkan mouth piece ke dalam mulutku sebagai pelindung gigiku. Yang kutunggu saat ini hanyalah satu.... ORANG BRAZIL itu.

  Pintu belakang mobil sedan itu pun dibuka oleh salah seorang penjaga yang berjaga di luar mobil. Sesosok manusia berjaket tudung dan celana training hitam keluar dari mobil. Ia berjalan gagah, namun santai, sambil meninju kedua kepalan tangannya yang mengenakan MMA gloves yang sama sepertiku, hanya saja berwarna dasar hitam dan hijau. Dari balik jaket bertudung hitam itu bisa kurasakan sorot mata yang tajam, yang sangat menginginkan pertarungan. Kedatangannya disambut sorak sorai oleh kerumunan ini, sangat berbeda sekali dengan kedatanganku tadi. Sorak-sorai mereka membahana di area luas ini. Mereka menyorakinya seakan-akan bahwa hanya dialah seorang pahlawan. Sebagian besar dari kerumunan ini mempertaruhkan seluruh kemenangan mereka pada orang Brazil ini. Mereka yakin bahwa orang Brazil inilah yang akan menang. Dari sorak-sorai mereka bisa kuketahui bahwa nama orang ini adalah Da Silva. Rodrigo Da Silva.

  Da Silva kemudian melepaskan jaketnya sebelum menghampiri Johan.  Rambut aslinya ternyata gimbal dan diikat ponytail. Otot-otot tubuh bagian atasnya telah terbentuk dan lebih besar dari ototku, meskipun tidak sekelas binaragawan. Bisa kulihat juga punggungnya yang bertato ular bersayap yang melilit longgar sebuah pedang, Quetzacotl, salah satu dewa dalam mitologi kepercayaan suku Aztec dan Maya kuno di Amerika Selatan yang dipercaya sebagai dewa angin. Tato itu barangkali memiliki simbol tersendiri bagi Da Silva yang menandakan kepribadiannya  sebagai petarung, meskipun aku tak tahu apa maksud simbol tato tersebut baginya. Da Silva kelihatannya sedang membicarakan sesuatu dengan Johan sebelum akhirnya ia kembali menuju ke tengah-tengah arena bertarung ini.
  Da Silva mengulum mouth piece-nya sebelum bertarung. Kelihatannya laki-laki gimbal ini petarung yang tenang tapi serius. Itu yang bisa kubaca dari sikapnya sekarang ini. Kami berdua berjalan ke tengah arena ini. Saling menatap tajam satu sama lain. Bisa kurasakan perbedaan tenaga dan tekanan antara kami berdua, hanya dengan satu tujuan, bertarung sampai titik darah penghabisan. Da Silva menyodorkan kepalan tinjunya ke arahku, lalu mengangguk. Kusentuhkan kepalan tinjuku ke kepalan tinjunya, dan...

“MULAI!”

  Teriak seseorang yang bertindak untuk memimpin pertandingan ini. Tiba-tiba sebuah tendangan memutar ke belakang datang, membabat wajahku. Tendangan itu sangat cepat, dan secara refleks aku berhasil mengelak dari bahaya tersebut. Tapi, serangan itu masih berlanjut. Kaki kanannya yang tadi menyerangku kemudian kembali berayun dari samping yang otomatis membuatku segera menangkisnya cepat. Serangan pembuka tersebut sudah sangat cukup untuk membuatku terkejut.

  Pukulan cross kiriku pun segera mengincar wajahnya, namun berhasil dihindari olehnya. Kupaksa ia untuk bertarung jarak dekat. Setiap tendanganku datang berusaha mengenainya, tapi selalu luput. Ia lebih gesit daripada yang kubayangkan. Setiap seranganku berhasil dihindarinya dengan lompatan, salto, maupun gerakan menghindar akrobatik lainnya. Seperti seekor monyet. Di saat itu pula, ketika aku berusaha melancarkan spinning back kick dalam jarak dekat, Da Silva segera menemukan celah. Ketika tubuhku berputar ke belakang untuk menendangnya, Da Silva langsung mendorong pinggangku dengan punggungnya hingga membuatku kehilangan keseimbangan dan jatuh.

  Da Silva berhasil menjatuhkanku. Sebelum serangan berikut darinya datang, aku segera mencoba untuk berdiri, tapi satu tendangan berputar bak cakram darinya memaksaku untuk menundukkan badan sebelum akhirnya aku benar-benar bisa berdiri dengan cepat.Tanpa pikir panjang, segera kuayunkan pukulan hook kiriku yang menghantam  pipinya. Disusul dengan satu pukulan hook kanan yang tepat mengenai rahangnya dengan keras. Da Silva ternyata sangat cerdik. Sebelum seranganku yang berikutnya datang, push kick-nya segera mendorongku mundur sebelum ia berguling mundur ke belakang.

  Kedua mata kami saling memperhatikan gerakan masing-masing. Kuakui aku sendiri cukup kewalahan menghadapi Da Silva. Bisa kurasakan perbedaan teknik di antara kami berdua. Teknik kami masing-masing nyaris seimbang. Kerumunan orang-orang yang menjadi penonton ini bersorak-sorai meihat pertarungan kami berdua. Sebagian besar orang yang mendukung Da Silva segera berteriak ricuh memaksaku untuk kalah, sedangkan untuk Da Silva, mereka sangat mendukungnya, menyuruhnya untuk segera menyelesaikanku secepatnya. Sebagian kecil orang yang mendukungku segera memberiku semangat untuk segera menghabisi Da Silva.

  Da Silva pun mengitariku sambil melakukan ginga, kuda-kuda dalam capoeira. Tiada henti baginya untuk terus bergerak. Aku hanya berdiri dan mengitari poros di tempatku berpijak saat ini. Mengamati setiap gerakannya, sekaligus mewaspadai serangan tiba-tiba yang bakal dilancarkannya. Kami saling mengamati satu sama lain dalam jarak yang saling berjauhan.

  Dalam jarak yang berjauhan, tendangan saltonya yang mengincar bagian atas kepalaku datang secara tiba-tiba. Memaksaku untuk segera mengelak ke samping. Serangan mendadaknya berhasil mengejutkanku. Tapi, serangan itu belum berhenti sampai di situ. Dia memaksaku untuk terus mengelak dengan setiap tendangan berputar dan melingkarnya. Tanpa memberiku celah untuk bergerak bebas. Kali ini Da Silva yang memaksaku bertarung jarak dekat.
  Aku berusaha memanfaatkan keadaan. Saat serangan beruntunnya terhenti, segera kulayangkan setiap tinjuku menuju wajahnya, namun sayang semua itu berhasil ditangkisnya. Da Silva sungguh tidak memberiku kesempatan untuk menyerang. Dia membatasi setiap gerakan maupun serangan, dan terus mendesak pertahananku. Da Silva kemudian berputar, kakinya berayun menyapu, mencoba untuk menjegal salah satu kakiku. Namun yang ada, justru sapuan tersebut memaksa untuk bersalto demi menghindari serangannya.     Tanpa pikir panjang, lutut kirinya segera menghujam hidungku begitu aku mendarat di atas tanah. Darah segar mengalir dari hidungku. Serangan lutut barusan membuatku pening sesaat. Bagaikan kawanan hiu yang belingsatan melihat darah, semuanya pun langsung bergemuruh sorak-sorai.
  Keadaan yang terpaksa ini membuatku mencoba untuk mundur dari serangannya, meskipun apa yang kulakukan ini justru menambah jarak serangannya. Mengingat bahwa capoeira juga adalah teknik bertarung yang memanfaatkan jarak jauh. Dalam keadaan yang tidak menguntungkan ini, kudapatkan satu kesempatan. Aku segera melompat berputar begitu ia berusaha mendekatiku, hingga akhirnya, tendangan berputarku berhasil menghantam keras bagian depan wajahnya. Da Silva terhempas ke samping setelah menerima tendanganku barusan. Aku berhasil mengembalikan keadaan.

  Aku teringat kembali akan saran Ary agar aku harus mengunci setiap gerakannya. Aku kembali mendesaknya dengan jarak yang sangat dekat. Setiap pukulan kombinasi tinjuku berhasil mendarat tepat di pipi, hidung, dada, dan perutnya. Sekarang aku yang tidak memberinya kesempatan untuk menyerang balik. Begitu ia terdorong mundur dengan jarak yang cukup jauh, kumanfaatkan momen tersebut dengan langsung menyerang maju dan melakukan tendangan angin puyuh. Namun, Da Silva tetaplah petarung yang sangat jeli. Dia berhasil mengelakkan tendanganku dan melompat di hadapanku. Dia segera melancarkan drop kick dengan kedua kakinya, yang berhasil menghantam keras dadaku hingga terhempas mundur, sebelum akhirnya ia terjatuh mendarat di ata aspal yang keras ini.

  Da Silva membayangiku dengan maju sambil berputar menyamping di depanku. Melakukan gerak tipu untuk memaksaku melangkah mundur dengan cepat. Tendangan berputarnya pun datang sebagai penutup gerakan tipu ini. Begitu tendangannya berhasil kuelak, aku segera maju, melayangkan tinjuku ke arahnya. Sekali lagi, dia tetap petarung yang sangat jeli dan sangat bisa memanfaatkan keadaan. Entah pertarungan maupun strategi bertarung apa yang dilakukannya dalam setiap kerasnya pertarungan jalanan di Brazil. Dia sudah sangat cukup membuatku kewalahan. Kaki kirinya segera mengait lenganku. Menarikku paksa hingga aku terpelanting di atas aspal dengan sangat keras. Dalam posisi seperti itu, dimana aku terbaring akibat jatuh dan kaki kirinya masih mengait lengan kananku, di situlah ia secepatnya berusaha melakukan kuncian lengan, arm bar. Menyadari hal itu, aku segera menarik balik lengan kananku dengan lengan kiriku yang bebas. Tenaga kami berdua saling memaksa satu sama lain. Yang kulakukan sekarang ini adalah untuk mencegah agar lenganku tidak dipatahkan olehnya. Jika sampai lenganku patah, maka berakhirlah semuanya. Da Silva begitu gigih ingin segera menyelesaikan ini. Namun di saat itu juga, segera kuayunkan salah satu kakiku sekeras-kerasnya hingga menendang kepalanya. Membuat kuncian di lenganku terlepas sehingga aku bisa meloloskan diri.

  Tanpa pikir panjang, aku langsung bangkit. Kulakukan sedikit gerak tipu pada Da Silva. Aku bersalto ke arahnya, seakan-akan aku akan melakukan tendangan salto. Da Silva segera mengambil langkah mundur, terpancing oleh gerakanku bahwa aku akan menyerang. Segera kuubah gerakanku hingga berputar menyamping. Tendangan angin puyuh. Kaki kananku melayang tinggi dan menghantam keras di bagian pipinya, nyaris mengenai rahang. Membuatnya terpelanting keras ke samping sebelum akhirnya menghantam aspal dengan keras. Penonton yang mendukungku langsung berteriak kegirangan begitu melihatku berhasil menjatuhkan Da Silva. Seranganku berhasil menjatuhkannya dua kali,  meskipun Da Silva lebih mendominasi pertarungan ini.

Aku harus lebih berhati-hati.

Pukulan hook milikku langsung mengincar wajahnya begitu ia berusaha bangun. Dengan sigapnya, ia secepatnya menangkap tanganku. Melakukan counter attack. Sikutnya langsung berbalik mengincar wajahku. Da Silva lantas langsung menarik dan menghempaskanku. Namun, aku berusaha untuk lebih jeli lagi dari dia. Sebelum aku terhempas ke tanah, aku segera berguling untuk mencegah diriku terhempas di atas aspal yang keras ini. Aku segera bangkit, dan Da Silva berhasil mengambil kesempatan. Ia sudah lebih dulu menghampiriku. Belum sempat bagiku untuk berdiri sepenuhnya, kaki kirinya langsung mengait pergelangan kakiku, dan lutut kirinya segera mendorong pahaku dengan memanfaatkan kakiku yang terkait. Menjegalku, berhasil membuatku jatuh hilang keseimbangan, dan terguling ke belakang.

  Aku mencoba berdiri, dan mengambil jarak yang cukup jauh darinya. Badanku rasanya ingin rontok semua. Nafasku mulai kelelahan, tapi keinginanku untuk masih tetap ingin bertarung memaksaku untuk tetap melanjutkan pertarungan ini. Tidak ada jalan lain selain aku harus menyelesaikan pertarungan ini secepatnya. Aku mulai menyadari perbedaan antara diriku dengan Da Silva. Entah pertarungan jalanan keras macam apa yang sudah dilaluinya sampai membuatnya secerdik, segesit, dan sekuat ini. Berbekal kemampuan bertarungnya di jalanan ternyata telah membuat teknik capoeira menjadi berkembang seperti. Hanya difokuskan untuk bertarung, dan mencari kemenangan. Baru kali ini, dan baru pertama kali ini aku berhadapan dengan ahli capoeira, apalagi yang sehebat Da Silva sekarang ini.

(BERSAMBUNG)

Catatan Sang Petarung (Bagian 1)

 Kuteguk sebotol air mineral, dan sungguh nikmat. Bisa kurasakaan saat itu juga air yang mengalir dan membasahi tenggorokanku. Rasa dahagaku yang muncul ketika aku sedang menunggu seseorang, akhirnya terobati sudah.

  Sudah hampir satu jam aku duduk menunggu di halte stasiun Tanjung Barat ini, menunggu temanku. Menunggu dari sejak selesai maghrib hingga sekarang, beberapa menit setelah adzan shalat Isya. Kuakui memang, jalanan dari arah Depok hingga Pasar Minggu bila menjelang jam pulang kerja selalu macet, tapi itu tergantung situasinya. Karena kadang kondisi jalanan juga bisa berubah menjadi lancar atau bahkan biasa saja. Kondisi jalanan saat ini memang macet, itu bisa kulihat dari tempatku duduk di stasiun ini. Ku berpikir, mungkin itu sebabnya temanku mungkin terlambat datang.

  Kuperhatikan berbagai macam orang yang berlalu-lalang di stasiun ini. Petugas loket yang sepertinya santai-santai saja menghadapi para calon penumpang yang ingin membeli tiket kereta menuju ke arah stasiun lain sebagai tempat tujuan mereka. Calon penumpang yang tidak terlalu ramai menurutku, apalagi untuk jam seperti ini. Beberapa dari petugas keamanan ada yang sedang bercanda dengan rekan sejawat, bahkan ada yang duduk diam, dan merokok, sembari menunggu para penumpang dari kereta berikutnya yang turun di stasiun ini untuk diperiksa karcisnya. Sementara itu, beberapa kereta yang berbeda jenisnya datang melintas dan berhenti di stasiun ini dengan jumlah penumpang yang menurutku mudah diprediksi bila dilihat dari arah datang dan ke mana tujuannya. Bila kereta dari arah Bogor menuju Jakarta, baik itu ekonomi biasa maupun ekonomi AC, penumpang selalu tidak begitu penuh bila jam pulang kerja seperti ini. Namun, bila kereta datang dari arah sebaliknya, itu sangat berkebalikan. Bisa kulihat tidak sedikit penumpang yang bergelantungan di pintu kereta, bahkan duduk di atap kereta, seakan-akan tidak peduli dengan maut, akibat penumpang yang membludak di setiap gerbong kereta. Para petugas keamanan pun rasanya pasti sudah tidak bisa menertibkan hal ini. Karena ini sudah mengakar menjadi seperti suatu budaya yang tidak bisa dihapuskan, apalagi mengingat bahwa hal seperti ini sudah sangat biasa di kota metropolitan seperti Jakarta ini.

  Mataku terus memperhatikan setiap orang. Banyak orang yang berlalu lalang di stasiun ini untuk pergi menuju ke tempat di seberang mereka. Para pedagang asongan, kios, maupun gerobak yang begitu tenangnya menjajakan dagangan bahkan menunggu saja dagangannya dibeli. Beberapa preman maupun jagoan kampung bertato yang kadang lewat maupun nongkrong enggak  jelasYah, hal-hal itulah yang terjadi setiap hari di stasiun ini dan yang kuperhatikan dengan mata kepalaku saat ini.

  Tak lama kemudian, sebuah mobil jip hitam berhenti di depan stasiun. Di samping jalanan yang sekarang ini sudah tidak terlalu macet. Menarik perhatian sebagian kecil orang di stasiun ini. Kaca mobil dibuka, dan bisa kulihat wajah berusia sekitar sepuluh tahun di atasku yang sedang kutunggu saat ini, Ary.
“Sori lama, boy. Tadi ada urusan di Margonda. Apalagi pas mau ke sini,... Beuuuhhh.... macet banget tuh di daerah deket pasar Lenteng. Biasa tuh daerah situ. Hehehehe.”, ujarnya dengan senyum menyeringai dari wajahnya.
“Gak apa, bro! Emang biasa kali daerah situ! Hahaha”.
Aku beranjak dari tempatku duduk. Kubuang sebotol air mineral yang habis kuteguk ke dalam tempat sampah, lalu kuhampri ia di depan kaca jendela mobilnya. “Sori ya lama, tapi kita harus cepet-cepet nih. Kita gak boleh lama sekarang ini.”, ucapnya sambil menepuk kemudian menjabat tanganku, seperti salam anak muda jaman sekarang ini pada umumnya. Kuperhatikan sekitar jalan, kubuka pintu mobil di sebelahnya, dan aku pun segera masuk.
“Ayo cepet!”.


  Jip hitam ini melesat melewati sepanjang jalanan kota Jakarta, meskipun aku sendiri sebenarnya tidak tahu ke mana Ary akan membawaku. Selama perjalanan aku hanya diam, menatap ke luar jendela, dan sesekali aku memperhatikan Ary. Ia begitu santai. Mengemudikan mobilnya sembari mengisap sebatang rokok LA Lights, ditemani alunan musik ‘The Actor´MLTR. Sesekali ia ikut menyanyikan salah satu lirik lagu tersebut. Santai sekali dirinya, seakan tidak ada yang jadi masalah di dalam pikirannya. Padahal aku sendiri tahu, apa yang akan kita berdua hadapi nanti.

Pertarungan bawah tanah.

Ya, pertarungan bawah tanah. Bertarung secara vale tudo, yang berarti semua diperbolehkan dan tidak ada aturan yang mengikat, di dunia bawah tanah kota Jakarta ini. Dia sebagai promotorku, dan aku yang bertarung di atas arena. Bertarung sebagai aduan orang-orang kaya di dunia bawah tanah Jakarta.

  Aku mengerti apa yang ada di pikirannya, tentunya diriku, dan pastinya... uang. Uang hasil dari pertarungan yang didapat sangatlah besar jumlahnya. Hanya dalam sekali bertarung. Bila menang, maka otomatis bayaran yang kami terima sangatlah besar, dan bila kalah, malah sebaliknya, atau bahkan tidak dibayar sama sekali. Oleh karena itu, kami berdua sangat memikirkan dan memperhitungkan sekali masalah ini. Kami berdua memang sangat butuh uang, untuk keperluan kami masing-masing, dan terpaksa harus bekerja dengan cara bertarung seperti ini, meskipun sebenarnya Ary tidak terlalu begitu peduli dengan uang untuk dirinya, dia hanya memikirkanku saja. Itu yang sebenarnya ada si dalam pikirannya, mungkin berat baginya, tapi ia berusaha bersikap santai, dan tidak menganggap ini menjadi beban, meskipun ia sebenarnya sangat menyayangkan sekali bila aku kalah. Ary sudah menjadi seperti partner bagiku. Di balik sikap santai dan angin-anginannya, dia merupakan pemikir sekaligus ahli strategi yang cerdik, dan bahkan rela bertaruh agar aku bisa menang dalam setiap pertarungan.

  Sedangkan aku, aku adalah petarung. Tugasku sederhana, bertarung sampai menang. Meskipun sebenarnya ini sangat sederhana, tapi kenyataannya sangatlah berbeda dengan apa yang ada di atas arena. Lawan-lawan yang sangat kuat, yang bertarung secara brutal, dan tanpa aturan. Tidak seperti pertandingan olah raga beladiri yang sebagian besar masih menetapkan aturan untuk melindungi keselamatan kedua peserta yang bertarung, memakai pelindung di beberapa bagian tubuh, tidak boleh menyerag bagian tubuh ini, dan sebagainya. Tidak seperti itu. Dalam pertarungan bawah tanah, hukum rimba sangatlah berlaku tanpa pandang bulu. Siapa yang kuat, dialah yang menang, dan siapa yang lemah, dialah yang akan tertindas. Itulah yang terjadi. Sangat berbeda 180 derajat dengan pertandingan beladiri yang kita ketahui pada umumnya. Di atas arena, kita akan menemukan berbagai macam lawan dengan teknik dan strategi bertarung yang berbeda-beda, memperbolehkan cara-cara kotor tanpa diketahui – atau bahkan sebenarnya diketahui, namun hanya didiamkan saja – oleh wasit. Hanya sedikit jenis petarung yang bertarung dengan menggunakan kode etik seorang petarung sejati yang akan kau temukan. Semuanya bertarung sebagai ayam aduan dan dipertontonkan di depan para borjuis, konglomerat, pengusaha kaya, dan sebagainya, hanya sebagai hiburan yang beresiko tinggi dan berbahaya. Bagi petarung sendiri, hanya untuk dua hal alasan mereka bertarung, untuk harga diri dan untuk uang.
Inilah dunia bawah tanah Jakarta.

  “Melamun aja lo, Yo! Hahaha.”, celetuk Ary yang saat itu pula langsung membuka suasana. “Mikirin apa dah?”, lanjutnya yang kemudian menatapku dengan cepat. Aku hanya tersenyum dan menatap balik. “Gak ada apa-apa.”, jawabku tenang. “Aah, yang bener lo? Apa lagi mikir jorok kali lo ya? Ckckck... eh, nyebut lo, nyebut, hehe.”, candanya lagi.
“Apaan dah? Nyeletuk aja lu, ah.”, balasku sambil menyeringai. Ary terlihat begitu fokus mengendarai mobil jipnya. “Diem aja sih lagian. Ngobrol dong, mas! Hahaha.”, Ary hanya tertawa ringan. Santai tapi humoris sekali orang ini. Aku hanya tertawa ringan mendengar barusan yang ia katakan.
Jip hitam ini terus melaju, tapi aku tidak tahu daerah yang sedang kami berdua lewati sekarang ini.
“Gimana persiapan lo, Yo? Dah siap buat pertarungan malem ini?”, Ary kembali membuka pembicaraan. Aku masih menatap ke luar jendela mobil. “Gua mah siap-siap aja, Ry.”, jawabku tenang. Ary hanya diam, mengemudi sambil memperhatikan jalanan di depannya. “Jawaban lo ituuu mulu yang sering gua denger, “Gua mah siap-siap aja.”. Kagak ada jawaban laen apa? Sekali-kali kek lo jawab lo kagak siap gitu.”, balasnya sambil melirik ke arahku. Aku tertawa mendengar apa yang barusan dia katakan.
“Yee.. lo malah ketawa....”.

“Tadi siang gua dikasih tau sama orang yang ngadain pertarungan malem ini. Katanya lawan lu ntar orang luar, orang Brazil. Petarung jalanan yang paling terkenal di di kotanya dia di Brazil, Brasilia.”, ujar Ary. Ia menjelaskan kepadaku mengenai petarung yang akan jadi lawanku malam ini.
“Hehehe, ada-ada aja lu, Ry.”.
“Ada-ada aja ngapa dah?”
“Petarung jalanan mah mana ada terkenal-terkenalnya, Ry. Hahaha, mikir dong. Lo kata artis kali yee. Gimana sih, hehehe.”.
“Terserah apa kata lo dah. Mau gua lanjutin lagi apa enggak nih?”.
“Iya, iya, lanjut.”.
  Ary kembali melanjutkan penjelasannya. “Si orang Brazil itu katanya petarung bayarannya si Johan, si konglomerat maniak berantem itu, yang petarung bayaran andalannya dia lu kalahin di pertarunga pertama lu.”. “Hmm.. Johan yang itu. Banyak juga ya duitnya buat nyewa petarung-petarung hebat. Nggak habis pikir gua.”, pembicaraan ini mulai manjadi serius. “Lu tahu kan si Johan itu konglomerat, belum lagi dia itu salah satu pengusaha yang punya pengaruh besar di dunia bisnis Jakarta. Saking kayanya aja, dia bahkan punya koneksi ma dunia hitam. Beberapa kali juga dia sering lolos dari jeratan hukum. Apalagi kayak sekarang, dia bahkan bisa nyewa petarung jalanan dari Brazil. Bener-bener maniak hiburan pertarungan dia. Dia cuma mau hiburan lewat pertarungan kayak gini, dan dia juga gak mua petarung andalannya kalah. Beginilah orang yang punya kekayaan ndan kekuasaan, apa pun semuanya jadi tanpa protes.”.
“Gua ngerti, Ry, tapi gua gak peduli masalah si Johan itu, yang gua pengen tahu sekarang lawan gua dari Brazil ini. Itu aja.”, aku meminta penjelasannya kembali mengenai petarung Brazil tersebut. “Oke, oke, sori kalo nyampe ngomongin masalah Johan. Begini, gua nggak tahu siapa nama orang Brazil yang bakal jadi lawan lu malam ini. Soalnya si Andrie, yang ngadain tuh, dia nggak ngasih tau mengenai namanya. Andrie cuma ngasih tahu bahwa si orang Brazil ini udah bertarung di pertarungan bawah tanah ini udah satu bulan. Dari dua belas kali pertandingan, dia nggak pernah kalah. Semua lawan dibabat ma dia, dibikin KO. Kuat banget kata si Andrie. Andrie nyaranin lu harus hati-hati. Karena lawan lu kali ini gak main-main.”, lanjut Ary.
“Style berantemnye apa?”, aku menjadi bertambah semakin penasaran dengan calon lawanku ini. “Style berantemnya capoeira, ditambah lagi dengan sebagian teknik-teknik street fighting.”, lanjutnya lagi.
“Masih ada lagi yang disampein dari Andri mengenai si orang Brazil itu?”, tanyaku lagi. “Enggak ada lagi, cuma itu aja. Tapi Andrie cuma nyuruh gua ngomong ke elu. Lu harus hati-hati. Karena lawan lu kali ini sangat beda dengan lawan yang selama ini lu hadapin. Lawan lu kali ini kelihatannya bener-bener lebih hebat satu tingkat di atas beberapa lawan tersulit yang pernah lu hadapi dalam setiap pertarungan. Si orang Brazil ini gak main-main. Cuma itu aja mungkin yang bisa gua omongin sekarang.”.
“Ryo, gua cuma mau bilang ke elu. Emang gua bukan petarung, bahkan juga sama sekali gak bisa berantem, tapi biarpun begitu, gua sering ngeliat orang berantem, apalagi kalo urusan berantem brutal kayak gini. Gua hanya mau lu waspada ma orang Brazil itu. Lu pastinya tau kalo orang capoeira itu banyak gerakannya kan? Gerakannya mengalir kayak air. Gerakannya bisa kayak ular dan bisa juga menipu lu, belum lagi setiap tendangannya. Tendangannya emang akrobatik, tapi tenaga yang dihasilkannya itu besar. Kayak palu. Ditambah lagi, lawan lu itu orang Barat. Perbedaan tenaga lu dengan dia pasti berbeda...”

  Aku terdiam dan mendengar setiap sarannya dengan serius. Karena aku tahu dan seperti yang  dikatakan barusan, Ary sama sekali tidak bisa bertarung, tapi dia sering melihat orang bertarung. Ary itu cerdik, dibalik kekurangannya tersebut, dia bisa berpikir dan menciptakan suatu strategi yang selama ini sangat efektif dalam membantuku bertarung dengan lawan-lawanku.
“Tapi lu pasti tahu lah, sepandai-pandainya tupai melompat, pasti jatoh juga lah. Sekuat apapun lawan lu, pasti ada celah yang sangat gampang buat buat diserang balik. Saran gua, usahakan hindari setiap tendangannya, tapi jangan mau tertipu ma setiap gerakan tipuannya, dan.... cobalah untuk cari celah lalu kunci gerakannya. Kalo lu bisa ngelakuin itu, gua yakin lu pasti menang. Itu aja mungkin yang bisa gua saranin. Semangat, boy!”.
Saran dari Ary sudah cukup berguna untukku, dan sekarang, aku hanya perlu fokus dengan pertarunganku yang akan kulakukan malam ini. Kuakui memang ada sedikit ketegangan dalam diriku. Tapi, yang bisa kulakukan sekarang hanyalah menenangkan diriku dan menjadikan ketegangan itu sebagai tantangan maupun motivasi bagiku untuk bertarung.


(BERSAMBUNG)

Sabtu, 24 Maret 2012

Manusia dan Kebudayaan

Definisi kebudayaan, apabila secara istilah, menyangkut berbagai macam pengertian yang telah dipikirkan oleh banyak ahli sosial di seluruh dunia. Namun, apabila ditinjau dari asal katanya, budaya berasal dari bahasa Sansekerta, bhudayah, yang berarti budi dan akal. Dalam bahasa Latin, kebudayaan berasal dari kata colere yang berarti mengolah tanah atau lingkungan. Jadi, kebudayaan secara umum berarti segala sesuatu yang dihasilkan oleh pikiran-pikiran manusia untuk mempertahankan kelangsungan hidupnya terhadap lingkungannya. Oleh karena itu, kebudayaan mencakup segala aspek yang bersifat material maupun immaterial.
Kebudayaan terdiri atas berbagai macam unsur yang saling melengkapi satu sama lain. Menurut C. Kluckhohn dalam bukunya yang berjudul Universal Categories of Culture, menyatakan bahwa kebudayaan terdiri atas tujuh unsur yang universal, yaitu:
1. Sistem religi (kepercayaan)
Manusia yang memiliki perasaan yang luhur, yakin dan tanggap bahwa sesungguhnya ada kekuatan yang lain yang maha besar, sehingga manusia menjadi takut dan menyembahnya. Inilah yang kemudian menjadi asal muasal terbentuknya agama.
2. Sistem organisasi masyarakat
dalam hal ini, manusia sadar bahwa dirinya lemah, tetapi memiliki akal, sehingga terbentuklah suatu organisasi masyarakat dimana manusia bisa saling bekerja sama untuk dapat meningkatkan kesejahteraan hisup.
3. Sistem pengetahuan
Pengetahuan merupakan hasil dari pemikiran diri sendiri, atau bisa juga berasal dari orang lain. Yang kemudian disebarkan melalui bahasa dan juga lewat tulisan yang dibakukan sehingga dapat berlanjut dari generasi satu ke generasi lainnya.
4. Sistem mata pencaharian
Menjadikan tingkat hidup manusia semakin meningkat secara umum.
5. Sistem teknologi dan peralatan
Berawal dari pemikiran cerdas manusia ditambah dengan kemampuan tangan untuk mengolah dan menciptakan suatu alat untuk membantu kelangsungan hidupnya.
6. Bahasa
Pada awalnya berasal dari kode, yang kemudian disempurnakan menjadi lisan, lalu berubah menjadi tulisan.
7. Kesenian
Diciptakan sebagai pemuas kebutuhan psikis yang diciptakan dalam bentuk kesenian.
Menurut wujudnya, dimensi kebudayaan terbagi menjadi tiga. Pertama, kompleks pemikiran dan gagasan manusia. Sifatnya abstrak dan tidak dapat dilihat. Dengan kata lain, letaknya berada dalam alam pemikiran masyarakat dimana yang bersangkutan hidup. Kedua, kompleks aktivitas. Wujud ini merupakan sistem sosial, yang terdiri dari aktivitas-aktivitas manusia yang saling bergaul, berinteraksi, dan berhubungan satu sama lain dari waktu ke waktu, selalu menurut pola-pola tertentu yang berdasarkan adat tata kelakuan. Ketiga, kompleks dalam wujud benda. Maksudnya, dalam berinteraksi, manusia membutuhkan benda sebagai sarana untuk membantu menyampaikan tujuannya dan beraktivitas. Ketiga dari wujud kebudayaan tadi, dalam kenyataan kehidupan masyarakat tak dapat dipisahkan satu sama lain.
Secara sederhana, hubungan antara manusia dan kebudayaan adalah manusia sebagai subjek atau perilaku kebudayaan, sedangkan kebudayaan merupakan objek yang dilaksanakan oleh manusia. Dalam sosiologi, hubungan keduanya bersifat dwitunggal. Maksudnya, keduanya merupakan satu kesatuan walaupun berbeda. Manusia menciptakan kebudayaan agar dapat membantu mengatur kehidupan manusia supaya sesuai dengannya. Kebudayaan dan manusia dapat disimpulkan sulit untuk dipisahkan karena keduanya saling membutuhkan satu sama lain. Kebudayaan merupakan hasil atau wujud dari manusia itu sendiri.
Hubungan antara keduanya secara terkait satu sama lain, terbentuk melalui tiga tahapan proses, yaitu:
1. Eksternalisasi, yaitu proses dimana manusia mengekspresikan dirinya dengan membangun dunianya. Hasil nyatanya adalah berbentuk masyarakat.
2. Obyektivasi, yaitu proses dimana masyarakat menjadi suatu kenyataan yang terpisah dari manusia dan berhadapan dengan manusia lainnya. Perilaku manusia kemudian terbentuk oleh obyektivasi ini.
3. Internalisasi, yaitu proses dimana masyarakat disergap kembali oleh manusia. Manusia kemudian mempelajari masyarakatnya sendiri agar ia bisa hidup dengan baik, sehingga manusia menjadi kenyataan yang dibentuk oleh masyarakat.


Referensi:





Nama: Alan Darmasaputra
Kelas: 1TB03
NPM: 20311532

Manusia dan Penderitaan

  Penderitaan pada dasarnya berasal dari kata derita, dan derita itu sendiri berasal dari bahasa Sansekerta, dhra, yang berarti menanggung. Penderitaan secara garis besar adalah menanggung atau merasakan sesuatu yang tidak menyenangkan. Baik itu dirasakan secara fisik maupun mental.
  Penderitaan merupakan realita yang paling sering ditemukan di dunia dan manusia. Intesitas dari penderitaan itu sendiri juga beragam dan bertingkat. Ada yang intensitasnya rendah, hingga ada yang tinggi. Namun, intensitas penderitaan itu sebenarnya lebih bergantung pada peranan dan kemampuan individu itu sendiri dalam menghadapinya. Penderitaan yang dirasakan oleh individu, bukan berarti pula penderitaan bagi orang lain. Pada dasarnya, penderitaan intu bisa menjadi dua hal. Pertama, bisa menjadi sebagai energi untuk bangkit bagi seseorang. Kedua, merupakan langkah awal bagi seorang individu untuk mencapai kenikmatan dan kebahagiaan.
  Penderitaan adalah resiko hidup yang pasti akan dialami oleh setiap individu. Tuhan selain memberikan kesenangan dan kebahagiaan kepada setiap manusia, juga memberikan penderitaan dan kesedihan yang bukan hanya kadang-kadang, tetapi jugabermakna agar manusia sadar untuk tidak berpaling dari-Nya. Hal ini selalu tersirat dalam Al-Qur’an maupun banyak kitab suci lainnya. Hanya saja, sebagian besar manusia pada umumnya kurang memperhatikan maupun menyadari akan peringatan tersebut, sehingga manusia mengalami penderitaan.

B. Siksaan


  Siksaan dapat diartikan sebagai hal yang menyiksa raga maupun jiwa. Berawal dari siksaan, penderitaan pun bisa muncul. Siksaan tidak hanya dialami berupa fisik, namun bisa juga dialami secara psikis, yaitu kebimbangan, kesepian, dan, ketakutan.
Kebimbangan dialami oleh mereka yang lemah dalam berpikir untuk memutuskan suatu hal yang akan diambil. Hal ini apabila berlangsung lama, maka dapat membuat individu tersebut mengalami siksaan yang berkepanjangan. Kesepian dialami oleh mereka yang merasa sendirian meskipun berada dalam lingkungan orang yang ramai. Faktor seperti ini bisa menyebabkan depresi dan siksaan yang mendalam. Ketakutan merupakan bentuk lain yang dapat mengakibatkan orang mengalami siksaan batin. Apabila rasa takut ini dibesar-besarkan tidak pada tempatnya, maka hal seperti ini bisa berubah menjadi fobia. Rasa takut ini sewaktu-waktu bisa membuat inividu kehilangan akal pikiran dan seketika juga bisa membuat mental orang tersebut jatuh.

C. Kekalutan Mental


Penderitaan dalam ilmu psikologi merupakan kekalutan mental. Secara sederhana, kekalutan mental dapat dirumuskan sebagai gannguan kejiwaan akibat ketidakmampuan sesorang dalam menghadapi persoalan yang harus diatasi sehingga yang bersangkutan bertindak kurang wajar.
Gejala-gejala orang yang mengalami kekalutan mental dapat nampak dari dua hal, yaitu fisik dan rohani.
a) Secara fisik, biasanya sering mengalami rasa pusing, sesak nafas, demam, dan nyeri pada lambung.
b) Secara rohani, biasanya lebih cenderung pada kecemasan hati, apatis, mudah marah, ketakutan, dan cemburu.

D) Pengaruh Penderitaan


Penderitaan bagi orang yang mengalaminya mungkin akan memperoleh pengaruh yang bermacam-macam dari dalam dirinya. Sikap yang timbul, dapat berupa positif dan dapat berupa negatif. Sikap negatif yang terjadi biasanya merupakan penyesalan karena tidak bahagia, rasa kecewa, putus asa dan ingin bunuh diri. Kelanjutan dari sikap ini bisa berubah menjadi sikap yang anti, yang bisa berupa tidak ingin ini atau tidak ingin itu, atau bahkan tidak memiliki gairah atau semangat untuk hidup.
Sikap positif yang terjadi biasanya adalah sikap optimis untuk mengatasi penderitaan hidup, yang ditunjukkan bahwa sesungguhnya penderitaan itu bukanlah sebagai rangkaian penderitaan, tapi adalah sebagai usaha untuk membebaskan diri dari penderitaan, dan penderitaan hanyalah bagian dari kehidupan.


Referensi:




Nama: Alan Darmasaputra
Kelas: 1TB03
NPM: 20311532

Rabu, 11 Januari 2012

Plagiarisme & Solusinya

Plagiarisme.
Berbicara mengenai hal ini, mungkin sudah sering kita temui di kehidupan sehari-hari. Ini bukanlah barang baru di negeri kita. Atau beginilah, buat kita yang sering browsing di google untuk mencari bahan atau tulisan tertentu, kadang kita biasanya menemukan berbagai macam blog maupun artikel yang merupakan hasil penelusuran kita di google. Bila diperhatikan baik-baik, biasanya isi bahan yang kita cari, yang kita temukan di hasil pencarian ini, biasanya sama persis. Ya mungkin anda pernah mengalami hal seperti ini. Mencari suatu bahan di internet, dan ternyata anda menemukan berbagai macam artikel atau blog dengan isi yang sama persis. Tanpa ada yang menyebutkan sumbernya yang asli. Entah siapa yang memulai tulisan tersebut lebih dahulu, dan entah juga siapa yang melakukan copy paste terlebih dahulu juga.
Atau mungkin, untuk kita yang hidup di lingkungan perkuliahan, khususnya anda yang sebagai dosen. Biasanya pasti anda kadang akan menemukan suatu tugas kuliah mahasiswa anda, yang kemudian setelah anda selidiki lebih lanjut, ternyata itu berasal dari hasil karya orang lain. Dimana mahasiswa anda ternyata sama sekali tidak mencantumkan darimana keotentikan sumber tulisan tersebut.
Mohon maaf apabila penjelasan contoh saya di atas mungkin agak sulit untuk dimengerti, tapi saya berharap mudah-mudahan anda paham. Karena apa yang saya jelaskan ini bisa dibilang hanyalah sebagian dan contoh kecil dari plagiarisme.

Plagiarisme berdasarkan pengertiannya yang saya ambil dari Wikipedia adalah, penjiplakan atau pengambilan karangan, pendapat, dan sebagainya dari orang lain dan menjadikannya seolah karangan dan pendapat sendiri.
Untuk plagiarisme sendiri, ada banyak sekali hal yang menjadi poin-poin utama yang tergolong di dalamnya. Tapi, yang paling utama adalah menggunakan tulisan mentah langsung dari tulisan lain, tanpa memberikan tanda jelas (biasanya untuk pemberian tanda ini bisa digunakan dengan tanda kutip atau blok alinea yang berbeda, atau bisa juga dengan menuliskan catatan kaki) bahwa tulisan tersebut diambil dari tulisan lain. Dan berikutnya adalah mengambil sumber orang lain dan tidak menjelaskan dengan jelas asal-usul atau keotentikan sumbernya yang asli.

Ada banyak sekali alasan mengapa orang melakukan plagiarisme. Tapi, bila kita semua tinjau lebih lanjut. Yang pasti, sejak mulai adanya internet, plagiarisme sudah menjadi permasalahan utama yang sampai sekarang sulit untuk dikendalikan.
Untuk mahasiswa sendiri, bila saya melihat, plagiarisme itu muncul karena dua hal, yaitu karena ketidakmampuan mahasiswa untuk menulis bahan tulisan dan kesempatan dimana si pembimbing yang memberi tugas tidak memperhatikan hasil pekerjaan mahasiswanya dengan baik (karena tidak punya cukup waktu atau terlanjur yakin dengan mahasiswanya), sehingga lebih terkesan ‘asal terima, jadi’.
Atau untuk di dunia internet, contohnya gampang sekali untuk ditemukan. Banyak blogger yang menjiplak hasil tulisan dari blog lain yang kemudian diterbitkan di blog mereka sendiri, tanpa menyebutkan sumbernya yang asli. Alasannya sederhana saja, supaya blog mereka terlihat lebih menarik dan juga lebih terkenal sehingga bisa menarik orang untuk membaca blog tersebut. Hal seperti ini yang biasanya sudah sering saya temukan di internet.

Setiap masalah pasti ada solusinya, terutama masalah plagiarisme ini. Ada banyak solusi untuk menekan sikap plagiarisme. Salah satunya yang paling utama adalah dimulai dari diri sendiri. Inilah yang rasanya saya lebih tekankan. Bagaimana cara memulainya, menurut saya adalah dengan menumbuhkan integritas diri dan kepercayaaan diri terlebih dahulu. Dengan integritas, orang jadi mampu untuk membentengi dirinya dari sikap plagiarisme itu sendiri, dan juga senantiasa untuk menjaga maupun menghargai hasil karya, pendapat, atau tulisan orang lain. Sedangkan dengan kepercayaan diri, orang juga jadi mampu berpikir bahwa dirinya sendiri juga bisa dan pada akhirnya mau untuk menggali semakin dalam potensi yang ada pada dalam dirinya, dan juga hal itu sekaligus menuntun dirinya juga untuk mampu melakukan hal-hal yang terbaik. Peran pembimbing juga sangat diperlukan juga disini. Karena tugas utama pembimbing adalah membimbing dan menanamkan karakter integritas tersebut terhadap mereka. Menanamkan moral, tanggung jawab, kejujuran, dan hal-hal lainnya, itu juga sangat diperlukan. Manusia memang bisa berkembang sendiri, tapi bukankah ada baiknya jika dibimbing. Karena setiap manusia juga pastinya butuh bimbingan untuk menjadi lebih baik. Jika diterapkan hal-hal utama seperti ini, saya rasa plagiarisme di kemudian hari bisa dengan mudahnya untukdapat dicegah.


Nama: Alan Darmasaputra
NPM:  20311532
Kelas:  1TB03

Referensi:
·         Plagiarisme
http://id.wikipedia.org/wiki/Plagiarisme
·         Fenomena Plagiarisme dan Solusi Pencegahannya
http://debrianruhut.blogspot.com/2011/09/fenomena-plagiarisme-dan-solusi.html
·         Plagiarisme dan Solusi Pencegahannya
http://erywijaya.wordpress.com/2010/04/16/plagiarisme-dan-solusi-pencegahannya/